Make your own free website on Tripod.com

[Home] [Promosi] [What's New] [Tiga Jurus Memilih Bank Sehat] [Bermain Deposito] [Jangan Tertusuk Duri Bunga] [Logout]

Langkah II
BERMAIN DEPOSITO KETIKA SUKU BUNGA RENDAH

Ketika krisis ekonomi menerpa Indonesia, bunga deposito begitu tinggi. Orang-orang yang punya duit banyak segera memanfaatkannya dengan menaruh duitnya di sana. Keuntungan pun dikeruk sambil ongkang-ongkang kaki dan menyeruput teh atau kopi hangat. (Boleh jadi, sebelumnya, mereka memang telah bekerja lebih keras.) Sementara, sebagian besar rakyat Indonesia boro-boro menabung, makan saja kelimpungan. Betulkah mereka menangguk keuntungan besar?

Kemudian , bunga deposito menurun tajam alias menjadi rendah. Pada saat seperti itu, apakah mereka mesti menarik duitnya dari sana? Kalau tidak, bagaimana mereka harus bermain deposito ketika suku bunganya rendah seperti itu? Bagaimana, sih hitung-hitungannya?

Anda deposan bank? Wajar kalau hari-hari ini wajah Anda muram. Anda tidak perlu kecewa. Yang berwajah kusut bukan cuma Anda saja, kok. Belakangan ini, ada jutaan orang yang bingung. Apa pasal? Bunga deposito berjangka (time deposit) mulai “layu”. Ibarat musim, masa panennya sudah berakhir. Itulah yang menjadi biang kerok wajah cemberut ibu-ibu. Betapa tidak, semula, dengan mendepositkan uang Rp 100 juta, para deposan dapat menikmati bunga 50% atau bahkan 60% per tahun. Kini, perolehan bunga yang dihasilkan paling banter 14%. Dus, per bulan, pendapatan bunga deposito yang masuk kocek tinggal Rp 1.116.666. Padahal, sebelumnya, bunga yang dapat dipetik dari pokok deposito berjangka sebesar Rp 100 juta tidak kurang Rp 4.166.666 per bulan

Mungkin Anda bertanya-tanya, apa sih yang membuat bank-bank tega menurunkan bunga depositonya sampai demikian rendah? Ada bermacam alasan. Namun, yang utama, nilai tukar rupiah yang relatif stabil di kisaran Rp 6.600 – Rp 7.000 dianggap tidak perlu lagi “dijaga” dengan bunga tinggi. Kemudian, laju inflasi juga tidak begitu mengkhawatirkan. Agar sektor riil segera bergerak, suku bunga harus rendah. Dengan bunga rendah, kredit bank diharapkan dapat kembali mengucur dan kegiatan produksi akan terakselerasi. Begitu skenario makronya.

Sementara, di sisi mikro, berbagai bank saat ini sudah dilanda kelebihan likuiditas. Uangnya kebanyakan. Alhasil, bank-bank tidak ngoyo lagi menarik dana masyarakat. Jadi, masuk akal kalau bank beramai-ramai mengerek turun bunga depositonya

Lantas, apa yang Anda lakukan? Ngedumel, marah, atau pindah bank? Sia-sia belaka. Hampir semua bank secara serentak telah menarik ke bawah tingkat bunga yang ditawarkan. Jadi kalau Anda masih ingin menjadi deposan setidaknya ada beberapa alternatif jika tetap ingin “bermain” dalam deposito pada saat bunga rendah.

Pertama, Investasi dalam deposito berjangka (time deposit) berdenominasi rupiah

Yang perlu diperhatikan di sini adalah jangka waktu deposito berjangka yang akan dipilih. Saat ini, suku bunga deposito berjangka yang berlaku sekitar 14%-16% p.a. untuk jangka waktu satu bulan dan menurun 0,5%-1% untuk jangka waktu 3,6, dan 12 bulan. Kondisi seperti ini sebenarnya belum sesuai dengan “kaidah” tren tingkat bunga normal. Dalam kondisi normal, tingkat bunga seharusnya makin tinggi untuk jangka waktu yang lebih panjang. Misalnya, suku bunga deposito berjangka satu bulan 15% p.a., maka untuk jangka waktu berikutnya di atas 15%. Akan tetapi, fakta yang ada memperlihatkan sebaliknya. Hal tersebut merupakan indikasi bahwa suku bunga deposito berjangka masih berpeluang turun lagi. Jadi, kalau Anda pilih deposito berjangka satu bulan dengan tingkat bunga 15% p.a., pada satu bulan mendatang, ketika Anda akan memperpanjang deposito berjangka tersebut, mungkin tingkat bunganya sudah turun lagi menjadi 14% atau 13%. Untuk menghindari percepatan penurunan tingkat bunga itu, jika Anda masih berminat menanamkan uang dalam deposito berjangka lebih baik memilih jangka menengah panjang, yakni untuk periode 6 bulan sampai dengan 12 bulan. Kalaupun dalam 12 bulan mendatang, tingkat bunga deposito berjangka hanya satu digit alias di bawah 10 %, deposito berjangka Anda sudah “di-lock” pada bunga yang disepakati hari ini, yakni sekitar 13% atau 14%.

Kedua, Deposito berjangka berdenominasi valuta asing (valas), seperti dollar Amerika

Sama seperti rupiah, saat ini, bunga deposito berjangka dalam denominasi dolar Amerika pun makin rendah. Di berbagai bank, tingkat bunga deposito berjangka valas yang berlaku berkisar 4% hingga 7% per tahun. Padahal, beberapa bulan lalu, rate-nya masih sekitar 13%-14% per tahun. Hanya, kalau tren bunga deposito berjangka rupiah makin rendah untuk jangka waktu yang lebih panjang, untuk deposito berjangka valas relatif sama. Jadi, untuk 1,3,6 atau bahkan 12 bulan, tingkat bunganya seragam. Pada beberapa bank, ada yang sudah memberlakukan tingkat bunga normal. Artinya, bunganya makin tinggi untuk jangka waktu yang lebih panjang, hanya selisihnya sangat tipis.

Yang perlu diperhatikan dalam deposito berjangka berdenominasi valas adalah perkiraan perubahan kurs, tingkat bunga yang diberlakukan, dan “ongkos” keluar masuk deposito berjangka valas dimaksud. Tingkat bunga bergantung pada masing-masing bank. Oleh karena itu, pilihlah yang memberikan bunga paling tinggi, tapi banknya sehat, atau paling tidak termasuk bank-bank yang dana pihak ketiganya dijamin pemerintah. Sementara, mengenai perkiraan perubahan kurs, sejauh ada tendensi dolar Amerika masih menguat (apresiasi) , maka masih layak dipilih

Yang layak diwaspadai sebenarnya adalah mengenai “ongkos” keluar masuk deposito berjangka valas tersebut. Contohnya begini, katakan Anda ingin menempatkan dana ke dalam deposito berjangka sejumlah US$ 50.000. Suku bunga yang berlaku adalah 7% p.a. Satu tahun mendatang Anda akan mendapatkan kembali uang Anda sebesar US$ 50.000 + 7%. Untuk membuka deposito berjangka valas tersebut, Anda harus memiliki dollar Amerika terlebih dahulu, padahal uang yang Anda miliki dalam bentuk rupiah. Itu berarti, Anda mesti membeli atau menukarkan rupiah ke dalam dollar Amerika.

Umpamanya, deposito berjangka itu Anda buka pada 2 agustus 1999. Pada saat itu, kurs jual-beli adalah Rp 6.600-Rp7.000. Artinya, kalau Anda ingin membeli dollar Amerika, Anda harus membayar Rp7.000 per US$1. Sedangkan, kalau ingin menjual, bank menghargai Rp6.600 per US$1. Itulah yang disebut sebagai “ongkos” keluar masuk valuta asing. Dan ,untuk mendapatkan US$50.000, Anda mesti mengeluarkan rupiah sebesar Rp 350 juta, yang diperoleh dari US$50.000 x Rp7.000 (kurs jual bank).

Satu tahun kemudian, yakni pada 2 agustus 2000, Anda tentu akan mencairkan deposito berjangka dimaksud dan mendapatkan US$50.000 + 7% = US$53.500. Namun, dalam kenyataannya, Anda belum tentu memperoleh uang dalam bentuk dollar Amerika (bank notes). Dengan kata lain, Anda “dipaksa” bank menerima pencairan deposito berjangka dalam bentuk rupiah. Dengan demikian, Anda harus menjual dollar Amerika sesuai dengan kurs yang berlaku pada saat itu. Katakanlah dollar Amerika mengalami apresiasi sebesar 5%, sehingga kurs jual-belinya menjadi Rp6.930 – Rp7.350. Jadi, Anda akan mendapatkan US$53.500 x Rp6.930 (kurs beli bank), yakni Rp 371 juta. Atau keuntungan yang diperoleh deposan adalah Rp21 juta.

Padahal,jika menggunakan kurs alternatif, yakni kurs tengah, keuntungan yang diperoleh deposan realtif akan lebih besar. Pada saat membuka deposito berjangka, misalnya kurs tengahnya adalah Rp 6.800 per US$1, sehingga deposan harus mengeluarkan uang sebesar Rp 6.800 x US$50.000 =Rp 340 juta. Kemudian, pada saat pencairan, deposan seharusnya menerima US$53.500, yang jika dikonversikan ke dalam rupiah dengan kurs tengah sebesar Rp 6.870 per US$1, maka akan mendapatkan rupiah sebesar Rp367,5 juta. Jadi, keuntungan yang diperoleh adalah Rp27,5 juta.

Dari contoh tersebut, terlihat "ongkos" keluar masuk dollar Amerika, yakni berdasarkan selisih kurs jual dan beli diberlakukan bank ternyata cukup signifikan jumlahnya. Jadi, kendati ada apresiasi dollar Amerika sebesar 5%, keuntungan tersebut habis termakan "ongkos" keluar masuk. Konkretnya, pada waktu beli dollar Amerika, Anda harus mengeluarkan Rp7.000 per US$1 (kurs jual bank). Satu tahun kemudian, ketika Anda menjual dollar Amerika tersebut, Anda hanya menerima Rp 6.930 per US$1 (kurs beli bank).

Itu baru kasus sederhana. Bagaimana jika Anda tidak mau menerima pencairan deposito berjangka Anda dalam bentuk rupiah, melainkan dalam dollar Amerika? Jangan kaget, Anda bahkan akan menerima hasil yang jauh lebih rendah. Sebab, pertama-tama, Anda mesti menjual dulu dollar Amerika dari deposito berjangka Anda pada kurs Rp6.930 per US$1. Kemudian, karena Anda menginginkan dollar Amerika, Anda harus membeli kembali dari bank dengan kurs Rp7.350 per US$1. Dari kasus di atas, jika deposito berjangka Anda plus bunga semula adalah US$53.500 atau Rp371 juta, tapi, ketika Anda menginginkan dalam bentuk bank notes, yang Anda terima adalah US$50.476, yang diperoleh dari Rp371 juta dibagi Rp7.350 per US$1 (kurs jual bank).

Agar Anda tidak "terjebak" dalam ongkos keluar masuk yang demikian besar, sebelum memilih untuk menempatkan uang dalam deposito berjangka valas, ada baiknya Anda perhatikan mengenai hal-hal tersebut. Yang paling penting, adalah ketika akan mencairkan deposito berjangka valas yang Anda miliki, apakah diharuskan menjual dollar Amerika dan kemudian membeli kembali atau Anda dapat langsung memperoleh bank notes-nya. Hal-hal seperti itu biasanya jarang dikemukakan bank pada saat Anda membuka deposito berjangka. Jadi, Andalah yang harus berinisiatif.

JANGAN SAMPAI TERTUSUK DURI SUKU BUNGA
Halaman Selanjutnya