Make your own free website on Tripod.com

[Home] [Promosi] [What's New] [Tiga Jurus Memilih Bank Sehat] [Bermain Deposito] [Jangan Tertusuk Duri Bunga] [Logout]

Langkah I
TIGA JURUS MEMILIH BANK SEHAT

Pada saat masyarakat mulai menyadari pentingnya menyimpan uang di bank, sejumlah bank tiba-tiba ambruk dan ditutup pemerintah. Banyak orang tersentak kaget, termasuk saya. Kami mulai berpikir ulang: jangan-jangan menyimpan uang di bank sama tidak amannya dengan menyimpan uang di bawah bantal. Kami pun was-was. Apalagi, saat itu, penjaminan uang nasabah di bank-bank terlikuidasi belum dilakukan pemerintah.

Pemerintah kemudian mencoba menenangkan dengan menyatakan bahwa pemerintah menjamin uang nasabah yang ada di bank. Namun, citra buruk perbankan nasional terlanjur menyeruak di benak kami. Kesadaran kami untuk memilih bank pun timbul. Tidak semua bank itu berkualitas baik. Karena itu, menyimpan uang tak dapat lagi di sembarang bank. Masalahnya, kami tak tahu bank seperti apa yang layak kami pilih untuk menyimpan uang. Ada tidak cara sederhana untuk melihat bank yang aman sebagai tempat menyimpan uang?

Jika, belakangan ini banyak kalangan bingung memilih bank, wajarlah. Pengalaman pelikuidasian telah menimbulkan kekhawatiran. Memang, dana tetap dijamin aman. Persoalannya, menarik dana dari bank terlikuidasi sungguh merepotkan. Bukan saja harus antre berjam-jam, melainkan prosedurnya pun kerap menjengkelkan. Sudah untung kalau masih dilayani dengan senyum. Kenyataannya, selain menghabiskan waktu, pelayanan bank pembayar umumnya mengecewakan. Lamban dan cenderung birokratis. Ketimbang repot, banyak kalangan akhirnya lebih suka mencairkan depositonya, meskipun bank tempat menyimpan uangnya sebenarnya sehat-sehat saja.

Masalahnya, memilih bank bukanlah soal mudah. Memilih bank tidak jauh beda dengan memilih jodoh. Harus dicermati dulu bibit, bebet, dan bobotnya. Mengenai bibit, misalnya, dapat dianalogikan dengan latar belakang bankir. Sang bankir sebelumnya berprofesi sebagai pedagang, biasanya, ia juga akan menggunakan cara-cara dagang, dalam mengelola bank. Kemudian bebet. Konteks ini dapat diinterpretasikan sebagai kualitas aset bank. Bank yang berkualitas aset baik, lazimnya, pendapatannya juga baik. Sementara itu, bobot, dapat ditafsirkan sebagai kemampuan manajemen atau bankir dalam mengelola bank. Biasanya, bankir yang “jam terbang”- nya sudah tinggi akan lebih berhati-hati dalam mengelola bank. Dalam versi lain, bank yang berusia tua dapat dianggap lebih mapan ketimbang bank yang baru berdiri. Di luar parameter “psikologis” itu, secara empiris, ada beberapa indikator yang layak dijadikan rujukan untuk mendeteksi kinerja bank.

Pertama, Tingkat Bunga Bank

Makin tinggi bunga yang ditawarkan, terutama jika dibandingkan dengan bank yang beraset setara, makin tinggi pula risiko bank tersebut. Argumentasinya sederhana. Bank merupakan lembaga perantara (intermediary) yang dalam mengelola dananya harus berpegang pada prinsip kesesuaian jatuh tempo (maturity). Bank yang berhati-hati biasanya menyalurkan dana masyarakat berjangka pendek menjadi kredit jangka pendek pula. Sedangkan kredit jangka panjang didanai dari dana jangka panjang. Dalam prakteknya, ada bank-bank yang menggunakan dana jangka pendek untuk – katakanlah – membiayai proyek properti yang jelas-jelas berjangka panjang. Hal ini jelas-jelas melanggar prinsip kehati-hatian (prudential banking).

Persoalan menjadi semakin kacau balau kalau pengembalian kredit jangka panjang, dipastikan, bank akan menghadapi persoalan likuiditas. Di satu sisi, bank harus membayar dana masyarakat yang jatuh tempo. Akan tetapi di sisi lain, sumber untuk membayar deposito itu tidak ada. Sebab, dananya sudah tertanam di kredit berjangka panjang. Untuk menyiasati persoalan seperti itu, bank biasanya akan lari ke pasar uang dan mencari pinjaman di sana. Namun, ongkosnya sangat mahal dan belum tentu dana yang dibutuhkan tersedia. Alhasil, bank terpaksa mencari dana-dana baru dari masyarakat.

Agar menarik, bank kemudian mematok bunga yang sangat tinggi. Sering kali jauh lebih tinggi ketimbang suku bunga yang berlaku umum. Namun, hal itu sama saja dengan gali lubang tutup lubang. Ketika lubang itu sudah tidak dapat lagi ditutupi, seperti yang ditunjukkan pengalaman, puluhan bank terpaksa dilikuidasi. Oleh karena itu, sebaiknya hindari menempatkan dana pada bank-bank yang memasang bunga terlalu tinggi.

Kedua, Struktur Kepemilikan dan Manajemen.

Banyak bank yang bermasalah adalah bank-bank yang manajemen dan pemiliknya memiliki pertalian yang terlalu erat. Katakanlah, bank dimiliki oleh si A. Kemudian, yang menjadi direktur atau jajaran manajemennya adalah kerabat si A. Jika seperti itu, sangat besar kemungkinannya terjadi persekongkolan di antara mereka. Atau, manajemen cuma jadi boneka.

Di sisi lain, ada pula bank-bank yang dimiliki satu orang atau mayoritas tunggal. Pemilik yang terlalu berkuasa biasanya cenderung melakukan intervensi. Apalagi kalau pemilik memiliki bidang usaha lain yang membutuhkan kredit. Bukan tidak mungkin, banknya hanya dijadikan sapi perah. Umumnya, bank yang hanya dimiliki satu orang akan sulit beroperasi secara profesional. Sebab, tidak ada pengawasan yang seimbang (balancing control) dari pihak lain. Jadi, jangan terlalu menaruh harapan terhadap bank yang kepemilikannya hanya dikuasai satu orang.

Pertanyaannya, bagaimana mengetahui sebuah bank dikuasai mayoritas tunggal atau tidak? Gampang. Cari laporan keungan publikasi bank yang ada di surat kabar. Cermati bagian bawah laporan keuangan tersebut. Biasanya, ada kolom mengenai pemilik bank lengkap dengan presentase kepemilikannya. Dari kolom tersebut, Anda akan menemukan apakah bank bersangkutan dimiliki segelintir pemegang saham atau tidak. Lebih dari itu, jika pemilik bank itu berupa perusahaan, Anda juga akan mengetahui apakah perusahaan yang memiliki bank itu merupakan grup usaha atau bukan. Kesimpulannya sederhana, jika mayoritas saham dimiliki grup usaha, pengalaman empiris memperlihatkan, sebagian kredit bank tersebut pasti disalurkan untuk grup usahanya. Sebaliknya Anda berhati-hati dengan bank seperti itu.

Ketiga, Pertumbuhan Aset

Waspadai bank yang jumlah asetnya secara tiba-tiba menjadi begitu besar. Meskipun pertumbuhan merupakan hal yang baik, lazimnya, hal itu harus bertahap. Sangat riskan kalau aset bank ujug-ujug membesar tanpa alasan jelas. Boleh jadi, bank tersebut terlalu ekspansif menyalurkan pinjaman. Bukan tidak mungkin bank tersebut terlalu banyak menyalurkan kredit kepada grup sendiri. Atau, malah bank itu mengkapitalisasi tunggakan bunga debitur menjadi pokok pinjaman baru.

Selain indikator-indikator sederhana di atas, masih ada pendekatan lain dalam mendeteksi sehat tidaknya sebuah bank. Pendekatan tersebut lazim disebut sebagai CAMEL (capital, asset, management, earning, and liquidity) factors. Namun, untuk menggunakan pendekatan ini tidak mudah. Selain bersifat teknis, belum tentu hasilnya benar. Jika Anda tidak mau berpusing-pusing, sebaiknya lupakan hal tersebut.

Yang perlu diingat, memilih bank sebaiknya tidak didasarkan pada tampak lahiriahnya saja. Gebyar hadiah, promosi yang gencar, atau suku bunga yang tinggi, meskipun menggiurkan, belum tentu memberikan “madu”. Mesti dipahami, rayuan berbunga-bunga sering kali ada maunya. Malah, ia bisa mengandung racun. Lihat saja sejumlah bank yang sudah ditutup. Banyak yang di luar dugaan. Begitulah bank. Meskipun tampilannya cantik dan penuh make up, belum tentu tubuhnya sehat. Jadi, lebih baik memilih bank yang meskipun tampilannya tidak gebyar tapi sehat, ketimbang bank yang kelihatannya charming tapi keropos.

BERMAIN DEPOSITO KETIKA SUKU BUNGA RENDAH
Halaman Selanjutnya